Cerpen Di Ujung Pelangi
hai haiii :D entri pertama di blog ini mau saya isi sama cerpen gagal saya._. cerpen ini sempat saya ikutin lomba, tapi gagal sunting gitu._. no matter what happen, happy reading! ;)
Di Ujung Pelangi
“Di
ujung pelangi aku bermimpi. Bermimpi menjadi seorang sastrawati,” serentetan
kalimat meluncur dari bibir seorang gadis kelahiran Islington 15 tahun silam.
Kakinya yang jenjang mulai menapaki satu demi satu anak tangga yang disusun dari
batu-batuan alam. Tubuh rampingnya berdiri di atas jembatan kayu berbentuk
setengah lingkaran. Gadis itupun tersenyum.
Seorang
lelaki yang sebaya dengan sang gadis juga mulai melangkahkan kaki menaiki anak
tangga menuju jembatan cantik yang membelah danau buatan di kompleks perumahan
tempat mereka tinggal. Ia berdiri di samping sang gadis. “Di ujung pelangi,
akupun bermimpi menjadi seorang arsitek. Seorang arsitek yang karyanya
mendunia,” si lelaki mulai buka suara, mensejajarkan pandangannya dengan pandangan
sang gadis. Sejenak mereka saling bertatapan, lalu tersenyum. Danau buatan yang
bernama Greenish Lake itu memang menjadi lokasi favorite bagi mereka untuk sejenak
melepas penat. Terlebih saat rintik hujan mulai membasahi wilayah itu.
“Dev,
fotoin gue dong,” pinta sang gadis seraya menyerahkan DSLR nya kepada Devish.
Ya, begitulah si lelaki akrab disapa.
“Agak
ke kanan dikit Sha, biar kesannya bener-bener di ujung pelangi,” Devish mencoba
mengarahkan Rasha. Ya, rintik hujan membawa anugerah tersendiri bagi mereka.
Membawa kesejukan yang tak terelakkan. Tujuh warna terurai dengan begitu
menakjubkan menghiasi langit senja Greenish Lake. Dua sejoli itu asyik berfoto
ria di ujung pelangi. Devish masih sibuk dengan SLR Rasha, memfokuskan mata
lensanya agar tepat membidik pose anggun Rasha. Kedua bola matanya seolah tak
henti memandangi mata biru Rasha yang alami tanpa lensa kontak.
“Hasilnya
gimana Dev?” tanya Rasha seraya berjalan menghampiri Devish.
“Keren
Sha,” keduanya tersenyum. Perlahan, indahnya pelangi di langit Greenish Lake
mulai memudar. Namun itu tidaklah penting bagi mereka. Karena menurut mereka,
yang terpenting ialah saat mereka berhasil mendapatkan kepuasan hati kala
menikmati indahnya pelangi. Ya, walau hanya satu menit saja, atau bahkan hanya dalam
hitungan detik. Kemunculan ketujuh warna itu selalu membawa kenikmatan tersendiri
bagi mereka.
“Dev,
besok kalau gerimis.. dateng ke sini lagi ya,” pinta Rasha.
“E..
sorry Sha, bukannya gue nggak mau.. tapi weekend ini gue nggak bisa. Saudara-saudara
gue yang dari Mumbai pada dateng, mau liburan katanya,” jawab Devish.
“Pinter banget lo cari
alasan, tiap weekend kan lo ada acara.. inilah, itulah,” Rasha geleng-geleng
kepala. Devishpun cuma nyengir.
“Gini deh Sha, hari
Jum’at minggu depan lo dateng aja ke rumah gue. Hari Sabtu kan mereka balik,
sebelum mereka balik, gue mau kenalin lo sama adik sepupu gue yang namanya
Sharma. Dia juga hobi nulis.. cocoklah sama lo,” jawab Devish mengalihkan
pembicaraan.
“Hahaa,
oke deh gue dateng. Tapi kalau nggak ada klapertartnya gue nggak jadi dateng,”
Rasha tersenyum jahil. Devishpun hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar
respon sahabatnya yang satu itu.
*
Purnama mulai bersinar
di antara gelapnya malam, seolah tengah memamerkan pesona indahnya. Malam
Minggu bak primadona tersendiri bagi kaum remaja masa kini. Layaknya budaya
yang tak bisa ditinggalkan, malam Minggu ditetapkan sebagai malam untuk saling
beradu kasih oleh kaum muda. Namun, budaya yang telah mengakar kuat itu tak
berlaku bagi Rasha. Di kamarnya yang bernuansa merah kuning, gadis keturunan
Indo-Inggris itu terlihat tengah berkutat dengan laptopnya. Kamar merah kuning
yang disebutnya sebagai “Magical Land” itu memang mewakili kegemarannya dalam
membaca novel dan menonton film seri Harry Potter. Seoptimal mungkin ia merias
kamarnya agar terlihat serupa dengan ruang rekreasi Gryffindor, lengkap dengan
ornamen-ornamen khas Harry Potter sebagai interiornya. Tentu, semua itu tak
lepas dari bantuan sahabat karibnya, Devish.
“Because
I Love You,” dengan lincah, jari jemarinya mulai menari-nari di atas keyboard
laptop berlambang apel itu. Fikirannya seakan melayang menembus ruang imajinasi
yang tiada batas. Diketiknya kata demi kata hingga membentuk susunan kalimat
yang terangkai dalam beberapa paragraf. Ya, ia tengah berjuang menyelesaikan
beberapa cerpen yang akan ia kirim ke redaksi majalah setempat esok pagi.
Bibirnya tampak menyunggingkan seutas senyum simpul. Jarum jam yang kini
menunjuk angka 11 tak membuat Rasha berhenti dari aktifitasnya malam itu.
Di
waktu yang sama dengan lokasi berbeda, Devishpun juga tengah berkutat dengan
laptop putihnya. Ia terlihat begitu semangat menyelesaikan sesuatu yang
dianggapnya sebagai “misi penting” itu. Hingga tengah malam, ia masih sibuk
dengan misi pentingnya. Puluhan desainpun berhasil ia print out. Seulas senyum
jelas terukir di wajah lelaki berdarah Indo-India itu.
*
“Assalamualaikum,” Rasha mengetuk pintu klasik rumah keluarga Devish.
“Waalaikumsalam,” terdengar jawaban dari dalam rumah.
“Oh, nak Rasha.. silakan masuk nak, sudah ditunggu Devish dan Sharma di
belakang,” wanita paruh baya tampak membuka pintu dan mempersilakan Rasha
masuk. Ya, beliaulah Ibunda Devish. Seorang wanita cantik asal India yang telah
tinggal di Indonesia sejak 20 tahun silam. Rashapun tersenyum. Setelah mencium
tangan Ibunda Devish, ia segera menuju halaman belakang seperti apa yang telah
diberitakan tadi.
Sesampainya
di sana, mata birunya membuat. Takjub dengan apa yang ada di hadapannya. Manik
matanya menangkap sebuah objek luar biasa. Sejak kapan objek itu berdiri di
sana? Siapa dalangnya? Segudang pertanyaan langsung menyergap fikirannya. Ya,
dilihatnya sebuah objek yang kira-kira berukuran 2x3 meter berdiri kokoh di
ketinggian 1,5 meter pada ketiga batang
pohon. Objek itu juga disokong oleh belasan kayu penyangga. Di bagian kanan,
terdapat tangga spiral berwarna putih. Objek itu juga dikelilingi oleh pagar yang
berwarna senada dengan tangga spiral. Ya, objek itu adalah rumah pohon. Kini
matanya menangkap dua orang yang tengah melambaikan tangan kepadanya dari
beranda rumah pohon. Mereka ialah Devish dan mungkin yang berdiri di sebelah
Devish adalah…….. Sharma.
“Sha,
sini..” Devish memberi isyarat kepada Rasha. Rashapun langsung menaiki tangga
menuju rumah pohon. Sesampainya di sana, mereka bertiga langsung menuju ruang
utama.
“Woooow!
Subhanalloh,” rasa kagum tak henti-hentinya menyelimuti hati Rasha. Rumah pohon
yang cukup luas ini memiliki desain interior yang unik. Segala sesuatu yang ada
di ruang utama terbuat dari kayu-kayu yang di ukir. Ada satu hal yang tak kalah
unik, Devish tak lupa menyiapkan klapertart pesanan Rasha di atas meja.
“Sha,
kenalin.. ini Sharma,”
“Oh,
hi Sharma.. I’m Rasha, nice to meet you,” Rasha mengulurkan tangannya. Sharma
tersenyum dan menjabat tangan Rasha.
“I’m
Sharma, nice too meet you too,” “Ini ada bingkisan kecil dari Mumbai, buat
Rasha. Here it is,” lanjut Sharma mencoba berbicara dengan Bahasa Indonesia
walaupun logatnya masih kental dengan logat Hindi.
“Waw,
it’s great! Thankyou,” Sharma memberikan sebuah baju Punjabi yang cantik untuk Rasha.
Tak lama, indra penciumannya mulai beraksi. Aroma khas tiba-tiba muncul sebagai
pertanda akan datangnya hujan. Mereka segera berlari menuju beranda. Hawa sejuk
mulai menusuk kalbu. Hujan kali ini hanya bertamu sebentar saja, seolah ingin
memberi salam penghormatan untuk rumah pohon Devish. Pelangipun turut hadir
untuk memeriahkan suasana sore itu.
“Sha,
rumah ini selalu open buat lo. Biar kita bisa lebih leluasa ngabisin waktu
bersama pelangi,” Devish memandang Rasha sejenak.
“Thanks
Vish,” Rasha tersenyum. Tak pernah ia dapatkan sahabat sebaik Devish, memang
tak sempurna. Tapi dialah sosok yang apa adanya dan mampu membuat Rasha merasa
nyaman. Ya, Devish adalah yang pertama, dan mungkin satu-satunya. Mereka
bertiga asyik membicarakan berbagai hal. Mulai dari karya tulis, film, hingga
gosipnya para selebriti dunia. Mereka bak terlarut dalam hangatnya suasana.
Rasha baru beranjak pamit untuk pulang ketika sang senja mulai menyapa.
*
Batapa
kagetnya Rasha kala melihat sebuah papan bertulisakan “DIJUAL” bertengger di
halaman rumahnya.
“Ma..
Mama..” teriak Rasha yang langsung berlari menuju ruang keluarga.
“Assalamualaikum,”
Mama Rasha mengingatkan putrinya yang lupa memberi salam.
“Waalaikumsalam,”
“Ma, itu apa-apaan sih kok…” kalimat Rasha tertahan ketika ia melihat seisi
ruangan tampak berbeda. Tampak lebih longgar, hanya ada beberapa sofa yang
tersisa. Mama Rasha mengikuti arah pandang putrinya itu. Beliau tersenyum.
“Sha,
sini..” beliau mengajak Rasha duduk di salah satu sofa. “Papa ngajak kita buat
tinggal di London. Bukan di rumah Oma lagi. Rumah yang tahun lalu mulai
dibangun, sekarang ini sudah bisa ditempati. Malam ini kamu kemasi
barang-barang kamu, besok pagi kita berangkat,” jelas Mama Rasha.
“Besok?
Minggu depan ajalah Ma..”
“Rumah
kita udah dibeli orang nak, besok beliau sudah mulai pindah ke sini. Lagi pula,
semakin cepat kita pindah.. semakin cepat pula kita bisa carikan sekolah yang
cocok buat kamu. Jadi, tahun ajaran depan kamu sudah bisa masuk sekolah seperti
biasanya.”
“Devish
gimana Ma?” air muka Rasha seketika berubah sendu.
“Besok,
sebelum kita ke airport.. kita ke rumah Devish dulu, mohon pamit,” beliau
mengelus puncak kepala Rasha. Rasha hanya bisa mengangguk, pasrah.
*
Tadi
malam adalah malam yang paling panjang dari segala malam. Ya, setidaknya bagi
Rasha dan Mamanya. Pasport sudah dalam genggaman, belasan koper juga telah
berbaris rapi di teras rumah. Tinggal menunggu taksi yang akan menjemput
mereka. Dipandangnya rumah yang setia menemaninya selama 10 tahun ini untuk
terakhir kalinya. Berat rasanya kaki melangkah, namun apalah daya.. setiap
pertemuan pasti ada perpisahan. Taksi yang telah dinanti-nanti akhirnya dating
jua. 2 taksi yang dipesan langsung tancap gas. Bukan ke airport., tapi.. tapi..
ke rumah Devish tentunya. Mengingat nama itu, nafasnya terasa sesak. Hanya
butuh waktu kurang dari sepuluh menit untuk mencapai rumah Devish, ya.. ia
telah sampai.
“Assalamualaikum,” diketuknya pintu
klasik itu untuk yang terakhir kalinya.
“Waalaikumsalam,”
ada yang berbeda. Sharma yang mengetahui kedatangan Rasha, tanpa babibu
langsung menyergap tubuh Rasha, memeluknya erat. Dalam kebingungan, Rasha
membalas pelukan Sharma. Kini, bahunya basah terkena tetesan air mata Sharma.
Dalam peluknya, Sharma menceritakan semuanya. Segala detailnya. Dari A sampai Z
tak ada yang terlewatkan. Siapa saja yang mendengarnya akan tersentak. Tak
terkecuali Rasha dan Mamanya. Benarkah itu? Air mata yang sedari tadi
menggantung kini jatuh jua. Bulir-bulir halus itu jatuh menyusuri ubin-ubin marmer
beranda rumah Devish. Devish?
Berbagai
macam penyesalan menyesaki dadanya. Selama ini, Devish menahan rasa sakit itu
sendirian. Sahabat macam apa dia? Jadi, selama ini pula Devish melakukan cuci
darah setiap akhir pekan? Bagaimana bisa ia tak menyadarinya? Bagaimana bisa?
Kini Devish dalam kondisi drop, ktitis. Devish mengabaikan jadwal cuci darahnya
demi menyelesaikan misi penting. Misi penting? Ya, rumah pohon itu. Rumah pohon
itu penyebabnya. Tapi.. bukan! Bukan karena itu. Demi siapa Devish melakukan
itu semua? Untuk siapa? Hanya Rasha, hanya untuk Rasha. Serentetan rasa
bersalah menemani langkah kakinya di sepanjang koridor rumah sakit. Kini, ia
berdiri tepat di depan ruangan dengan pintu bertuliskan ICCU. Perlahan, ia
masuk ke dalam ruangan itu ditemani oleh Mamanya dan juga Sharma. Air mata yang
yang sedari tadi membasahi pipinya, kini mengalir semakin deras. Dilihatnya
seseorang yang amat ia sayangi terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Wajah
manisnya tampak pucat, beberapa alat medis juga terpasang di tubuhnya. Tak ada
yang membuka suara, tak ada sedikitpun energi untuk bicara. Sesekali hanya
terdengar isak tangis dari ketiganya. Digenggamnya tangan kanan Devish, ia
mengelusnya perlahan. Air matanya mulai menetes membasahi punggung tangan sahabat
karibnya itu. Tak kuasa menahan lara, ketiganya meninggalkan ruang ICCU, memberi
kesempatan bagi yang lain untuk menjenguk Devish.
Di
salah satu sudut rumah sakit, tepatnya di taman.. Rasha dan Mamanya terlibat
pembicaraan serius. Lalu lalang para pasien dan tenaga medis tak dihiraukan.
Air mata seakan tak pernah surut dari pelupuk mata mereka berdua.
“Ma..
Rasha mau berbagi ginjal Rasha buat Devish,” pinta Rasha mantap, benar-benar
tanpa beban.
“Ta..
tapi Sha..” Mama Rasha tak kuasa menahan tangis.
“Ma..
Rasha sama Devish udah sahabatan sejak TK.. tapi selama itu pula Rasha nggak
peka sama penderitaan sahabat Rasha sendiri. Rasha mohon Ma.. ini.. ini
kesempatan terakhir buat Rasha,” sekuat tenaga ia menyeka air mata Mamanya.
“Mama
takut Sha.. Mamat takut kalau..”
“Ma,
InsyaAlloh semua akan baik-baik aja. Semoga, dengan I’tikad Rasha ini.. Rasha
bisa berbagi kehidupan dengan Devish tanpa membahayakan hidup Rasha sendiri
Ma.. yang Rasha butuhkan saat ini hanyalah izin dan do’a restu seorang Ibu,
Do’akan Rasha Ma,” spontan, beliau memeluk Rasha dengan erat.
“Mama
izinkan kamu nak, do’a Mama menyertaimu,”
Lampu
meja operasi telah menyala. Seperangkat alat operasipun telah menanti.
Diliriknya ranjang di sebelah kirinya itu. Ia akan berjuang menyelamatkan
seseorang yang berada di ranjang itu. Ya, demi arti persahabatan yang
sesungguhnya. Jarum suntik mulai menyentuh lengannya. 1 detik.. 2 detik.. 3
detik.. semuanya berubah menjadi gelap.
“Selamat
pagi,” Rasha tampak mengerdip-ngerdipkan kelopak matanya. “Success,” satu kata
yang terucap dari bibir sang Mama mampu membuatnya merasa sedikit lega. Setelah
3 hari tertunda, akhirnya Rasha dan Mamanya terbang ke London jua. Sebelum itu,
mereka berpamitan dengan Devish yang masih enggan membuka matanya, serta
keluarganya. Beribu terimakasih seakan tak pernah cukup dicurahkan keluarga
Devish kepada Rasha.
“Ma,
kita ke rumah Devish bentar ya,” tangannya mulai menari-nari di atas secarik
kertas surat. Ia masukkan surat itu ke dalam amplop mungil berwarna merah, lalu
meletakkannya di atas meja ruang utama rumah pohon Devish.
*
Setumpuk
berkas tampak menggunung di meja kerjanya. Banyak hal yang harus ia
realisasikan di negeri kincir angin itu. Tiba-tiba pandangannya terfokus pada
amplop kumal yang terselip di antara tumpukan berkas itu. Amplop merah yang
sedari tadi ia cari-cari, amplop yang selalu setia menemani kemanapun ia pergi..
akhirnya ketemu juga. Di bukanya perlahan amplop itu..
Devish sahabatku,
Senang rasanya bisa mengenalmu, berbagi
suka duka bersamamu.. Kamu adalah yang pertama dan satu-satunya.. Sahabat yang
rela mengorbankan apapun demi senyuman di wajah orang yang disayanginya..
Bahkan sampai rela mengabaikan kesehatannya sendiri. Ya, aku merasa bodoh..
merasa tak berguna.. Aku minta ma’af, aku tak menyadari sakit yang kamu rasa
selama ini.. Tapi, sudahlah.. semuanya telah berlalu.. Kini, hanya satu
pintaku.. Jaga segala karunia yang telah diberikan Tuhan kepadamu.. Kita akan
menjalani hidup yang baru.. Kamu dengan hidupmu di Jakarta, dan aku.. Ah, tak
usah dibahas. Kamu tak perlu tahu dimana aku tinggal, tak perlu
mengkhawatirkanku.. Karena hanya ada satu hal yang perlu kamu tahu.. Satu hal
yang kuyakini dengan segenap jiwa.. “Hati yang akan menuntun kita berjumpa
lagi, dan saat itu tiba, kita telah menggenggam asa kita.. impian kita..”
Juni 2014,
Sahabatmu.. Rasha.
“Rinai
hujan basahi aku, temani sepi yang mengendap.. kala aku mengingatmu, dan semua saat
menit itu,” lantun seorang wanita yang tengah berdiri di atas jembatan di
tengah-tengah danau Vondelpark. Lagu itu memaksanya flashback pada masa-masa
sebelas tahun silam. Air matanya mengalir begitu saja tanpa disadarinya.
“Segalanya
seperti mimpi, kujalani hidup sendiri.. andai waktu berganti, aku tetap takkan
berubah,” tedengar suara bass seorang lelaki ikut melengkapi lagu Utopia itu.
Wanita itupun menoleh.
“Rasha?”
“Devish?”
Kedua pasang mata akhirnya saling bertemu, masa yang ditunggu-tunggu akhirnya
datang jua. Rambut pirang Rasha yang biasanya tergerai indah, kini telah
tertutup oleh jilbab berwarna hitam. Ia mengenakan atasan bermotif batik dengan
sabuk kepang berwarna merah dan celana jean hitam metalik. Tak lupa, kamera DSLR
itu masih setia menggantung di leher Rasha. Begitu juga dengan Devish, rambut
gondrong yang dulu ia pelihara.. kini berganti mode menjadi rambut klimis yang
tampak rapi. Tak lupa, kaca mata berminus 2 melengkapi penampilan terbarunya.
Rintik hujan turut menyambut pertemuan dua insan yang telah lama terpisahkan
oleh jarak dan waktu itu. Tak ada komunikasi apapun yang terjalin selama 11
tahun ini.
“Besok
aku akan kembali ke Tanah Air Indonesia untuk mengabdi sepenuhnya kepada Ibu
Pertiwi.. Apa yang ku impikan, perlahan mulai terwujud..” ucap Rasha.
“Aku
sedang meniti karier menduniaku di negeri ini.. secepatnya, akupun akan kembali
ke Ibu Pertiwi, tunggu aku di sana..” ini adalah percakapan pertama mereka
setelah percakapan di rumah pohon 11 tahun silam. Pelangi tiba-tiba datang
menghampiri, menghiasi langit senja Vondelpark. Tak disangka, hati telah
menuntun mereka berjumpa di negeri kincir angin ini. Kantor Devish berada tak
jauh dari lokasi wisata Vondelpark yang dipilih Rasha untuk merayakan kelulusan
studynya dari salah satu perguruan tinggi di London. Indra penciumannya yang
peka terhadap hujan turut menuntunnya berjumpa dengan sahabat karibnya itu.
“Di ujung pelangi,
impian kita terwujud..” keduanya saling pandang dan tersenyum.
“Selalu ada cerita
tersimpan di hatiku, tentang kau dan hujan.. tentang cinta kita yang mengalir
seperti air…”
*****

Saya agak bingung dengan settingannya hehehe
BalasHapusantara Indonesia, Inggris, belanda, Hindi
. mungkin mesti di-Indonesia-kan lagi
Lalu dalam menyebut "negeri kincir angin" semestinya sebutkan dulu dalam sebuah kalimat nama negaranya, baru dilvain kalimat menyebut gelar dari negara itu..
iya nih, saya juga bingung sama cerita saya sendiri. Itu bikinnya sambil mumet,jadi ceritanya ngawur banget. *ngeles wkwkw*
BalasHapusthanks bgt sarannya. Maksud saya blogwalking ke postingan saya yg itu sih -> http://magicalsalma.blogspot.com/2014/07/sharing-your-moment-with-twiries-apa.html?showComment=1409983276101#c8831006528899258500 … hehehe