Flash Fiction
Anniversary
Salma ‘Afindi Iswara
Kau melangkah menuruni tangga
spiral dengan langkah yang pelan dan berat. Kedua matamu belum sempurna
membuka. Beberapa kali mulutmu menguap dengan penuh semangat.
“Pagi, Sayang!” Suara manja dari
bawah sana sontak membuka kedua kelopak matamu dengan tergesa.
“Pagi juga, Sayang!” balasmu
saat kau telah tiba di hadapannya.
Dia yang tadi menyapamu dengan
suara manjanya hanya menatapmu kesal. Bibir tebalnya dimonyongkan ke depan
tanda tengah merajuk. Namun kau hanya diam―berusaha mengumpulkan jiwamu yang kau yakini
sebagian besar masih terperangkap di dunia mimpimu.
“Kau telah melupakan kewajibanmu.” Nada ketus dari wanita itu menyambut
kehadiranmu.
“Apa?” tanyamu.
Cup! Sebuah kecupan manis mendarat di pipi kananmu. Rasa hangat langsung
menjalar ke seluruh organ tubuhmu.
“Sebagai seorang suami, seharusnya kaulah yang mengecupku setiap pagi.
Tapi, karena hari ini adalah hari istimewa kita, tak ada satu alasan pun bagiku
untuk merasa kesal padamu.” Dia memelukmu erat. Kau hanya tersenyum ragu-ragu.
“Jangan bilang kau tidak ingat tentang hari ini,” ucapnya yang sedari
tadi menangkap kebingunganmu.
Kau tampak berpikir keras. Lalu,
semenit kemudian, matamu langsung berbinar. Otakmu menyeret kakimu ke sebuah
lemari dengan laci kecil di samping perapian. Tak sampai semenit, kau sudah
berdiri di depan wanita yang menyebutmu sebagai suaminya―istrimu. Kau berdiri di depannya dengan wajahmu yang mendadak segar. Kedua
tanganmu kau sembunyikan di balik punggungmu. Sejurus kemudian, ganti bibirmu
yang menampakkan sebuah senyuman lebar.
“Happy wedding
anniversary, Sayang!” serumu dengan mengulurkan kedua tanganmu.
Istrimu yang
berbibir seksi itu, menatap kubus berpita kuning yang kau bawa dengan manik
hijaunya yang tak kalah berbinar dari matamu.
“Thanks,
Sayang!” Dengan cekatan, jari-jari lentiknya membuka lembar demi lembar warna
merah kesukaanya.
“Bagaimana
menurutmu? Apakah kau suka?” tanyamu yang sudah tak sabar mendengar jerit
bahagia yang meloncat dari bibir istrimu. Dia hanya menatapmu dengan tatapan
elangnya.
“Teruntuk
istri mudaku. Semoga calon bayi kita akan selalu bahagia di dalam perutmu.
Suamimu, Alex.” Ia membaca catatan yang kau letakkan di kubus itu dengan suara
bergertar, wajahnya merah padam. Bahkan kau tahu benar bahwa setelah ini,
amarahnya akan benar-benar meledak. Tapi kau tetap saja bergeming di
hadapannya, memandang istrimu dengan cengiran lebar.
Sementara tangan kirinya sibuk memegang kertas
catatan yang kau tulis dengan tanganmu sendiri, tangan kanannya mengangkat
seikat mangga muda dari kotak kubus yang kau hadiahkan padanya.
“SEIKAT MANGGA
MUDA UNTUK ISTRI MUDAMU???!”
Tulungagung,
1 Desember 2014

Komentar
Posting Komentar