#FiksiSakit



Kutunggu Kamu di Jembatan Surga

“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Menunggu kematian.”
“Kenapa ditunggu?” Aku terdiam, menatapnya tajam.

*****
                Hari ini adalah hari ketigaku di sini. Membosankan. Kemarin, mereka memaksa Mamaku untuk menandatangani selembar surat. Aku tidak tahu apa isi surat itu. Tapi yang jelas, surat itu membuat Mamaku banjir air mata hingga semalaman. Aku tak ingat apa yang terjadi setelahnya. Aku hanya merasa…, kaku. Seperti terbagun dari mati suri. Kulihat Mama yang duduk di sebelah kanan ranjangku. Setitik embun menggenangi kelopak matanya. 
                “Mama, kenapa nangis?” Mama membelai helai hitamku.
                “Mama hanya…, teringat Papa,” jawabnya disertai senyum yang—ku tahu itu— dipaksakan. Aku bangkit dari posisi berbaringku, menyejajarkan pandanganku dengan mata sembab Mama.
                “Mama kangen Papa?” tanyaku sembari menghapus bulir bening dari mata Mama, “nanti, setelah sarapan, kita ke ruang rawat Papa ya! Mama jangan nangis lagi.” Mama menatapku nanar.
                “Mama bersyukur Papa tidak membawamu ke surga bersamanya,” ujarnya lirih. Aku menggeleng pelan.
                “Sssst! Suatu saat nanti, kita berangkat ke surga bertiga, bersama-sama. Aku, Mama, dan juga Papa,” tukasku. Mata mama  memerah, air matanya kembali tumpah.

**
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Menunggu kematian,” jawabku tanpa melihat siapa yang bertanya. Aku sama sekali tak peduli.
“Kenapa ditunggu?” Aku terdiam. Kutolehkan kepalaku ke arah sumber suara, lantas menatapnya tajam.
                Ia yang tadi menginterogasiku, mengambil tempat di sebelahku, di bangku taman rumah sakit yang basah dicumbu gerimis. Rambutnya dikepang dua, memandangku dengan sorot mata penuh tanya.
                “Tanpa kau tunggu pun, kematian akan datang menjemputmu dengan sendirinya.”
                “Tahu apa kamu tentang kematian?”
                “Dia sahabatku,” jawabnya ringan, “sudah hampir enam bulan aku tinggal di sini. Dan, hampir setiap hari pula kudengar tangis dari mereka yang kehilangan anggota keluarganya.” Ekor mataku merasakan bahwa ia mengikuti arah pandangku.
                “ Kematian tidak untuk ditunggu. Tapi untuk dipersiapkan. Kau, aku, dan seluruh manusia di dunia ini pasti akan mati. Kau tak perlu menyia-nyiakan waktumu hanya untuk sekadar menunggunya datang .” Kubiarkan dia terus membeo.
                “Ah, ya, siapa namamu?” tanyanya kemudian. Aku bungkam. Ia menghela napas, “Hajimemashite, watashi wa Akira desu.(1)” Ia mengulurkan tangannya, aku masih bergeming.
                “Kurasa, hujan akan berkunjung sore ini. Bulu-bulu hidungku bisa menghirup aroma kedatangannya,” celotehnya dengan nada bahagia. Aku menatapnya sekilas, kulihat dia tersenyum lebar. Dia, suka hujan? Sepertiku?
                “Kenapa kau tersenyum?”
                “Karena aku menyukai hujan.”
                “Kenapa?” tanyaku lagi. Ia menatapku hangat.
                “Karena, setelah hujan, aku bisa melihat pelangi.”
                “Aku benci pelangi,” tukasku.

**
                Usianya enam belas tahun. Lima tahun lebih tua dariku. Semenjak kejadian di taman sore itu, aku mulai mengacuhkannya. Dia menyayangiku. Aku tahu itu.
                “Sakit apa?” tanyanya tiga hari setelah perjumpaan pertama kami. Masih di tempat yang sama, di taman rumah sakit yang disesaki bunga-bunga sakura.
                “Kecelakaan mobil. Mereka memotong kaki kananku,” jawabku datar. M             atanya membelalak. Seolah tersadar bahwa di balik celana panjang bermotif teddy ini, hanya tersisa kaki bagian pangkal paha sampai ke lutut. Itulah sebabnya aku bertahan di tempat duduk paling menyedihkan di dunia ini: kursi roda.
                “Maaf, aku tidak tahu,” Ia berkata dengan nada penyesalan yang mendalam, “Kau lihat yang di sana itu?” Jari telunjuknya menunjuk koridor di hadapan kami.
                Lorong rumah sakit. Menyeramkan. Aku benci melewatinya.” Ia menggeleng mendengar jawabanku.
                “Tidak jika kau gunakan imajinasimu. Lihatlah pilar-pilar yang berdiri di lorong itu!” serunya. Kulihat pilar-pilar yang dimaksudnya. Tak ada yang spesial di sana.
                “Aku melihat pilar besar berwarna merah muda itu, dikelilingi oleh putri-putri cantik dari seluruh penjuru negeri ini.” Aku kembali mengikuti arah pandangnya. Namun tetap saja, di mataku, hanya ada pilar-pilar putih yang dilaui para pasien begitu saja. Masih seperti yang tadi, tak ada yang istimewa.
                “Ah, lihatlah! Mereka mulai bernyanyi.” Aku terdiam. Kutajamkan pendengaranku. Aku hanya mendengar nyanyian ringan dari seorang perawat yang melintas di depan kami.       
“Kau tahu, kekuatan imajinasiku menjauhkanku dari rasa kesepian. Inilah caraku untuk berbahagia,” tuturnya setelah menyadari kebingunganku, “ah, ya, sore itu, kau berkata padaku bahwa kau membenci pelangi. Kenapa?” tanyanya.
                “Karena.., pelangi datang untuk mengusir hujan. Saat aku bersenang-senang di bawah rintik hujan bersama Mama dan Papaku, pelangi datang menghancurkan semuanya.”
                “Kau tak boleh membencinya. Pelangi adalah jembatan menuju surga. Setiap jiwa yang mati, akan naik ke atas sana dan menjelma menjadi salah satu dari warna pelangi.” Matanya menatap pelangi yang mulai memudar.
                “Berarti, Papaku ada di sana?” Ia mengangguk.

**
                “Hari ini aku pulang. Kamu tidak ikut?” Ia menggeleng.
“Ini rumahku. Sel darah putih semakin menggerogoti tubuhku. Mungkin.., kematian akan menjemputku di sini.” Mata teduhnya menatapku hangat. “Ah, ya, ini, kubuatkan teru-teru bozu khusus untukmu.”
“Untuk apa?”
“Kau suka hujan kan? Gantunglah di jendela kamarmu secara terbalik. Ini untuk meyakinkanku bahwa kau akan selalu bahagia.” Senyuman lebar terpatri di paras pucatnya, manis, seolah tanpa beban.

**
                Hari ini, aku kembali bermain di bawah rintik hujan. Dengan duduk di kursi rodaku tentunya. Aneh, kali ini, aku berharap hujan segera berhenti. Aku ingin.., bertemu Akira.
                Akira, kamulah yang membuatku percaya pada mitos tentang pelangi. Tapi tetap saja,  kamu membohongiku. Kamu bilang kamu akan menungguku di jembatan surga sesaat setelah hujan reda. Tapi mana? Sudah lima tahun semenjak Mamamu menelponku dengan kabar duka itu, kamu tak pernah ada di sana. Jangan salahkan imajinasiku. Aku bisa bertemu Papa setiap ada pelangi. Papa menjelma sebagai warna merah, warna kesukannya. Tapi kamu tetap tidak ada di sana: aku  tak tahu apa warna kesukaanmu.
                “Akira, itukah kamu?” Kupanahkan mataku pada lengkungan warna kuning yang menghiasi langit abu-abuwarna paling cerah dari pelangi. Akira, akhirnya aku menemukanmu.
Aku terdiam. Merenungkan sesuatu.
Ah, ya, sejak kapan aku menyukai pelangi?

Footnote:
(   (1)    Perkenalkan, namaku Akira.


Nb. Diikutkan dalam tantangan menulis #FiksiSakit di @kampusfiksi . 900 kata sudah termasuk footnote.

Komentar

  1. Balasan
    1. makasihhh. Kritik sarannya ditunggu, Teh^^

      Hapus
  2. pelangi, hujan dan sakit. jadi inget film fault in our stars

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyakah? muehehe, aku malah belom pernah nonton filmnya ataupun baca novelnya, hemm._. thanks udh mau mampir!^^

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer